Kamis, 17 Januari 2013

Penggolongan Kata oleh M Ramlan (Morfologi)


BAB I

PENDAHULUAN

Penggolongan kata menyederhanakan pemerian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Tanpa penggolongan kata, struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa Indonesia.
Pada makalah ini akan dibahas secara khusus mengenai penggolongan kata menurut Ramlan. Ramlan (1985:48-77) menyatakan bahwa penggolongan kata yang dibuatnya didasarkan hasil penelitian yang dilakukannya pada tahun 1982 sampai dengan tahun 1983. Berdasarkan struktur sintaktik, kata bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi dua belas yaitu: (1) kata verbal; (2) kata nominal; (3) kata keterangan; (4) kata tamha; (5) kata bilangan; (6) kata penyukat; (7) kata sandang; (8) kata tanya; (9) kata suruh; (10) kata penghubung; (11) kata depan; dan (12) kata seruan.

PENGGOLONGAN KATA OLEH M. RAMLAN

Penggolongan kata oleh Ramlan
Bahasa dari dua lapisan : form (bentuk) dan meaning (arti)
Lapisan itu terdiri dari dua tataran yaitu tataran bunyi bahasa dan tataran morfem, kata, frase, klausa, kalimat, serta wacana, termasuk bidang tatabahasa atau gramatika. Sedangkan tataran arti termasuk bidang semantic.
Dasar penggolongan kata yang digunakan disini adalah yang berupa struktur gramatik. Dari penelitian yang dilakukan dalam tahun 1982 dan 1983, berdasarkan struktur sintaktik, diperoleh 12 penggolongan kata, yaitu :
1.      Kata Verbal
2.      Kata Nominal
3.      Kata Keterangan
4.      Kata Tambahan
5.      Kata Bilangan
6.      Kata Penyukat
7.      Kata Sandang
8.      Kata Tanya
9.      Kata Suruh
10.  Kata Penghubung
11.  Kata Depan
12.  Kata Seruan

1.      Kata Verbal
Kata verbal mempunyai ciri-ciri :
1.      Klausa cenderung menduduki fungsi P
Contoh : Krisna kurus
               Bayu tidur

2.      Frasa dapat dinegatifkan kata tidak
Contoh : Krisna tidak kurus
               Bayu tidak tidur
Kata verbal digolongkan menjadi 2 yaitu : kata kerja dan kata sifat
·         Kata Kerja
o   Kata verbal yang dapat  diikuti frase …dengan sangat.. sebagai keterangan cara.
Contoh :
membaca dengan sangat tenang
             tidur dengan sangat nyenyak
o   Kata kerja yang diikuti O
§  Transitif           :Kata kerja yang diikuti O dan dapat dipasifkan.
Transitif ada yang hanya menggunakan satu O dan ada yang menggunakan  dua obyek (dwi transitif)
Contoh yang menggunakan satu O :
membaca – dibaca                                  
mempertajam – dipertajam
Contoh yang menggunakan dua O :
Pak Agus membelikan anaknya baju baru

§  Intrasitif          : kata kerja yang diikuti O dan tidak dapat dipasifkan
Contoh yang diikuti O:
Anak itu bermain piano.
Ia  menangis semalaman.
Nelayan itu melaut di malam hari.
Contoh yang berdasarkan kemungkinannya diikuti PEL :
a.      Intransitif yang dapat diikuti PEL :
Banyak mahasiswa merasa bosan kuliah hari ini.
b.      Kata kerja intrasnsitif yang tidak diikuti PEL:
Bu Retno datang dari Surabaya.
Fajar berbicara dengan tetangga dikamar sebelah.
2.      Kata nominal
Kata dalam tataran frase yang tidak dapat dinegatifkan dengan kata tidak melainkan kata bukan, dapat diikuti kata itu, dan dapat mengikuti kata di atau pada sebagai aksisnya.
Contoh :
            Misalnya kata buku, pada tataran klausa kata ini dapat menduduki fungsi S, P, dan O.
 Buku sangan berguna.           Buku menduduki fungsi S
Itu buku.                                  Buku menduduki fungsi P
Ia membawa buku.                 Buku menduduki fungsi O

Jadi dapat disimpulkan bukan buku, buku itu, pada buku, di buku.
Kata-kata lain yang termasuk kata nominal : perkembangan, proses, manusia, itu, ini.

Kata nominal digolongkan menjadi 2 yaitu : kata benda dan kata ganti. Kata benda ialah kata nominal yang tidak menggantikan kata lain, sedangkan kata ganti ialah kata nominal yang menggantikan kata lain.
Contoh :
            Pada hari itu Dani berangkat ke Kalimantan. Ia akan menetap disana.
Ia menggantikan kata Dani.
Disana menggantikan kata Kalimantan.

Kata ganti dapat digolongkan menjadi 3 golongan yaitu:
·         Kata ganti diri : kata ganti yang menggantikan nama, baik yang bernyawa maupun tak bernyawa. Kata ganti diri dapat digolongkan menjadi 3 golongan lagi :
a.      Kata ganti diri pertama : aku, saya, kami
b.      Kata ganti diri kedua : engkau, kamu, anda, kamu sekalian, kalian, tuan, tuan-tuan, saudara
c.       Kata ganti diri ketiga : ia, dia, mereka, beliau
·         Kata ganti penunjuk : kata ganti yang dapat menggantikan nama, keadaan, suatu peristiwa/perbuatan. Yaitu kata itu dan ini.
·         Kata ganti tempat : kata ganti yang menggantikan nama tempat. Yaitu kata sana, situ dan sini.

3.      Kata Keterangan
Kata keterangan ialah kata yang dalam suatu klausa cenderung menduduki fungsi keterangan (KET) dan umumnya mempunyai tempat yang bebas, mungkin terletak di depan sekali, mungkin di antara S dan P dan mungkin terletak di belakang S dan P.
Contoh :
            Kemarin Suster pergi ke Bandung.
            Suster kemarin pergi ke Bandung.
            Suster pergi ke Bandung kemarin.
Kata keterangan dapat dibedakan lagi menjadi :
(1) menyatakan waktu, misalnya: kemarin, tadi, nanti, kelak
(2) menyatakan ragam yaitu sikap pembicara terhadap suatu tindakan atau suatu peristiwa, misalnya: rupanya, kiranya, seharusnya, seyogyanya
 (3) menyatakan kualitas, misalnya: secepat-cepatnya,  sejauh-jauhnya.
. Kata Tambah
             Kata tambah adalah sejumlah kata yang cenderung hanya menduduki fungsi atribut dalam frase yang termasuk tipe konstruksi endosentrik yang atributif, yang UPnya berupa kata verbal misalnya : belum, tentu, akan, sedang, tengah, kerap kali, selalu, mampu, dapat, terlalu, paling, dsb. Kata tambah yang menyatakan :
a.      Ragam : tidak, bukan
b.      Aspek : masih, sudah, telah, lagi
c.       Keseringan : kerap kali, sering, selalu
d.      Keinginan : ingin, hendak
e.      Keharusan : harus, wajib
f.        Kesanggupan : dapat, bisa, sanggup, mampu, bersedia
g.      Keizinan : boleh
h.      Tingkat : kurang, amat, sangat, terlalu, paling

5.      Kata Bilangan
Kata bilangan ialah sejumlah kata yang dapat diikuti kata-kata orang, ekor, buah, helai, kodi, meter, dll dalam sebuah frasa. Kata bilangan dibagi atas 2 yaitu : menyatakan jumlah dan menyatakan urutan.
Contoh menyatakan jumlah :
            Dua orang…..
            Empat ekor……
            Tujuh belas buah…
            Dua puluh lima helai….
            Enam kodi….
Tujuh meter….
            Contoh yang menyatakan urutan :
Orang kedua
Ayam ketiga
                        Rumah ketujuhbelas
                        Baris keduabelas
6.      Kata Penyukat
Kata penyukat ialah kata yang terletak dibelakang kata bilangan dan bersama kata itu membentuk satu frase yang disebut frase bilangan, yang mungkin terletak dimuka kata nomina.
Contoh  : orang, ekor, buah, kodi, dll
            Dua orang petani
            Dua belas buah rumah
            Tiga puluh biji telur
Kata orang : digunakan untuk menunjuk malaikat, manusia.
Contoh :
Lima orang malaikat.
            Beberapa orang pengusaha.
Kata ekor : digunakan untuk menunjuk satua hewan.
Contoh :
            Lima puluh ekor sapi.
            Seratus ekor domba.
            Seribu ekor semut.
Kata helai : digunakan untuyk menunjuk kata-kata yang berbentuk tipis dan lebar.
Contoh:
            Tujuh helai kain batik.
            Beberapa helai daun.
            Lima helai sapu tangan.
Kata batang : digunakan untuk kata-kata yang menunjuk satuan benda yang berbentuk panjang dan pada umumnya bulat.
Contoh :
            Sebelas batang pensil.
            Dua puluh batang bambu.
Kata biji : digunakan untuk kata-kata yang menunjuk satuan buah-buahan
Contoh :
            Sebiji salak
            Lima biji kelapa
Kata butir : digunakan untuk kata-kata yang menunjuk ssatuan benda yang berbentuk kecil dan lebih kurang bulat.
Contoh :
            Dua butir telur ayam
            Empat butir kemiri
Kata buah : digunakan untuk kata-kata yang menunjuk satuan benda pada umumnya, baik benda konkret maupun abstrak.
Contoh :
            Dua buah rumah
            Tiga buah buku
            Sebuah pendapat
            Empat buah usulan
Kata keeping : kata-kata yang menunjuk satuan benda yang berbentuk pipih.
Contoh :
            Dua keeping mata uang logam
            Lima keeping atap seng
Kata kuntum : digunakan untuk bunga
            Sekuntum bunga mawar
Kata patah ; digunakan untuk kata
            Sepatah dua patah kata
Kata pucuk : digunakan untuk bedil, tombak, pistol
            Sepucuk senapan
            Lima pucuk tombak
Kata bilah : digunakan untuk pisau, pedang, golok, klewang
            Sebilah pedang samurai
            Tiga bilah golok
Kata bidang : digunakan untuk tanah dan sawah
            Sebidang tanah
            Dua bidang sawah
Kata bentuk : digunakan untuk menunjuk perhiasan
            Sebentuk cincin
            Limabentuk gelang
Ada juga kata penyukat penunjuk :
1.       satuan jumlah seperti : kodi, lusin, rim,
2.      Satuan tempat : kranjang, botol,
3.      Satuan isi : liter, gallon
4.      Satuan berat : kg, kw, ton
5.      Satuan panjang, km, m, cm
Contoh :
      Dua kodi kain batik.
Tiga keranjang sampah
      Empat liter bensin
      Lima kilogram beras
tiga meter kain sutra

Kata sandang
Istilah kata sandang digunakan untuk menyebut sejumlah kata yang jumlahnya terbatas, yang selalu terletak di muka kata golongan nominal sebagai atributnya, yakni kata-kata si, sang, suatu, semua, segala, segenap, dan seluruh. Misalnya :
Si Ahmad
Sang Kancil
semua orang
segala masalah
segenap penduduk
seluruh rakyat


kata tanya
kata yang berfungsi membentuk kalimat tanya itu di sini disebut kata tanya, ialah kata-kata mengapa, kenapa, bagaimana, berapa, apa, siapa, mana, bilamana, kapan, bila, dan bukan.
Kata mengapa dipakai untuk menayakan perbuatan. Misalnya :
anak-anak itu sedang mengapa ?
kata tanya mengapa juga digunakan untuk menanyakan sebab. Misalnya :
Mengapa kepala kantor itu marah ?
Mengapa anak itu kemarin berjalan kaki saja ?
Untuk menanyakan sebab, kata mengapa sejajar penggunaannya dengan kata tanya kenapa. Misalnya :
Kenapa kepala kantor itu marah ?
Kenapa anak itu kemarin berjalan kaki saja ?

Kata Tanya bagaimana digunakan untuk menanyakan keadaan. Misalnya :
Bagaimana nasib anak itu ?
Studi anak saya bagaimana ?

Kata tanya bagaimana digunakan juga untuk menanyakan cara, ialah cara suatu tindakan dilakukan atau cara suatu peristiwa terjadi. Misalnya :
Bagaimana pencuri dapat memanjat dinding setinggi itu ?
Bagaimana orang itu menjadi kaya ?
Bagaimana utusan itu dapat sampai di sini sepagi ini ?

Kata tanya   berapa dipakai untuk menanyakan jumlah. Misalnya :
Ayam peternak itu berapa ?
Berapa harga buku itu ?

Kata tanya berapa dipakai juga untuk menanyakan bilangan. Misalnya :
Nomor berapa teleponmu ?
Sekarang jam berapa ?

Kata tanya apa dapat membedakan menjadi dua macam, yaitu kata tanya apa yang digunakan untuk membentuk kalimat tanya yang memerlukan jawaban iya atau tidak, belum atau sudah.  Misalnya :
Apa Ahmad pergi ?
Apa anak-anak sudah bangun ?

Kata tanya apa yang digunakan untuk membentuk kalimat tanya yang memerlukan jawaban menjelaskan. Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan benda, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Misalnya :
Petani itu membaca apa ?                  
Arsitek itu sedang merencanakan apa ?

Kata tanya apa juga digunakan untuk menanyakan identitas. Misalnya :
Ia menyaksikan pertandingan apa ?

Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan perbuatan sejajar dengan pemakaian kata mengapa, apabila kata tambah penunjuk aspek. Misalnya :
Anak-anak itu sedang apa ?
Mau apa dia ?

Kata tanya siapa dipakai untuk menanyakan Tuhan, Malaikat, dan Manusia. Misalnya :
Siapa nama anak itu ?
Siapa yang patut disembah ?
Siapa yang mencabut nyawa manusia ?

Kata tanya mana dipakai untuk menanyakan tempat. Dimana menanyakan tempat berada, darimana menanyakan tempat asal atau tempat yang ditinggalkan, dan kemana menanyakan tempat yang dituju. Misalnya :
Pengusaha bertempat tinggal di mana ?
Dari mana pelajar itu mendapat buku baru ?
Nenek pergi kemana ?

Selain digunakan untuk menanyakan tempat, kata tanya mana juga digunakan untuk menanyakan sesuatu atau seseorang dari suatu kelompok. Pada umumnya kata tanya mana didahului oleh kata yang, menjadi yang mana. Misalnya :
Sepedamu yang mana ?
Buku yang mana yang kau inginkan ?

Kata mana juga digunakan untuk menanyakan sesuatu atau seseorang yang pernah dibicarakan sebelumnya. Misalnya A dan B adalah mahasiswa Fakultas Sastra UGM. Pada suatu hari A bertemu dengan B, dan terjadi percakapan :
A : kemarin saya mendapat kiriman buku baru dari temanku di Jakarta.
B : bolehkah saya meminjam sebentar ?            
A :boleh saja, tetapi tidak saya bawa. Besok pagi saya bawakan.
Keesokan harinya A dan B bertemu lagi di Fakultas. Dengan serta merta B bertanya : mana bukunya ? 
Kata tanya bagaimana, bila, dan kapan dipakai untuk menanyakan waktu. Misalnya :
Bilamana karyawan itu akan menyelesaikan pekerjaannya ?
Bila Bapak Guru akan pulang ?
Sejak kapan kapal terbal itu mengalami kerusakan ?

Kata tanya ini digunakan untuk membentuk kalimat tanya yang memerlukan jawaban yang mengiyakan atau menidakan ; kata tanya bukan selalu terletak diakhir kalimat, kata tanya bukankah terletak diawal kalimat. Misalnya :
Anak-anak itu sudah bangun, bukan ?                 
Bukankah anak-anak itu sudah bangun?

  • Kata suruh, ialah kalimat yang mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari lawan bicara. Kalimat suruh dapat digolongkan menjadi 4 golongan yaitu 1. Kalimat suruh yang sebenarnya, 2. Kalimat persilahan, 3. Kalimat ajakan, dan 4. Kalimat larangan (Ramlan 1983: 37-41)
  • Kata-kata suruh dapat berupa kata-kata tolong, silahkan, dipersilahkan, mari, ayo, dan jangan.
  • Kata tolong digunakan untuk memperhalus suruhan yang dinyatakan dalam kalimat suruh yang dipredikatnya terdiri dari kata verbal yang benefaktif, ialah kata verbal yang menyatakan perbuatan yang ditujukan bukan untuk kepentingan pelakunya; kata silahkan dan dipersilahkan dipakai untuk membentuk kata persilahan; kata mari dan ayo dipakai untuk kalimat ajakan, dan kata jangan dipakai untuk membentuk kalimat larangan. Contoh :
  • Tolong ambilkan minum saya!
  • Silahkan beristirahat!
  • Dipersilahkan tuan mengambil sendiri!
  • Mari kita berangkat sekarang!
  • Ayo kita bermain sepak bola!
  • Jangan suka menyakiti orang!
Kata penghubung adalah kata atau kata-kata yang berfungsi menghubungkan satuan-satusan gramatik menjadi satuan gramatik yang lebih besar. Berdasarkan hubungan gramatik antar unsur yang dihubungkan, penghubung dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu penghubung yang setara dan penghubung yang tidak setara (Ramlan, 1981: 19)
  • Penghubunbg setara ialah penghubung yang menghubungkan satuan gramatik yang memiliki fungsi sama, baik berupa unsur inti semua, maupun berupa unsur bukan inti semua.
  • Contoh : pesawat jet dari luar negri itu mendarat satu demi satu dan berhenti berjajar di depan panggung kehormatan.
  • Penghubung lain yang termasuk golongan penghubung setara ialah akan tetapi, atau, apalagi, bahkan, baik…maupun, baik…ataupun, dan, dan lagi, hanya, kemudian, lagi, lagi pula, lalu, lantas, malah, malahan, melainkan, namun, namun demikian, namun begitu, pedahal, sebaliknya, sedang, sedangkan, serta, tambahan, tambahan pula, tapi, tetapi.
  • Penghubung yang tidak setara ialah penghubung yang menghubungkan satuan gramatik yang tidak setara, makasudnya yang tidak sam dengan fungsinya. Misalnya :
  • Ketika dia tersenyum  nampak gigi-giginya yang putih dan sehat.
  • Yang termasuk penghubung yang tidak setara ialah : agar, agar supaya, akibat, andaikan, andaikata, apabila, apabila demikian, apabikla begitu, asal, asalkan, bagai, bahwa, begitu, berhubung, berhubung dengan itu, berkat, biar, biarpun, bila, bilamana, buat, dalam, dalam pada itu,  daripada, demi, dengan, dengan demikian, dengan cara demikian, dengan begitu, dengan cara begitu, dengan cara itu, disamping, disamping itu, guna, hingga, jika, jika begitu, jika demikian, jikala, kalau, kalau-kalau, karena, karena itu, kecuali, kendati, kendatipunh, ketika, ketika itu, lantaran, manakala, meski, meskipun demikian, meskipun begitu, oleh Karena itu, sambil, sampai, sampai-sampai, seakan, seakan-akan, seandainya, sebab, sebab itu, sebagaimana, sebelum itu, sebelumnya, sedang, sedari, sehabis, sehabis itu, sehingga, sejak, sejak itu, sekiranya, selagi, selain, selain itu, selain dari pada itu, selama, semasa, sembari, semenjak, semenjak itu, sementara, sementara itu, seolah, seolah-olah, seperti, serasa-rasa, seraya, serta, sesudah itu, setelah itu, setiap, setiap kali, seumpama, sesuai, sewaktu, sungguhpun, sungguhpun demikian, sungguhpun begitu, supaya, tanpa, tat kala, tempat, tengah, tiap kali, untuk, yang, waktu, waktu itu, walau, walaupun, walaupun begitu, walaupun demikian.
  • Ada dua penghubung yang mungkin termasuk penghubng setara dan mungkin pula termasuk penghubung tidak setara, ialah kata sedang dan kata serta. Dalam kalimat
  • Di rumah dia tak kerasan, sedang di kampus teman-teman yang dikenalnya jarang muncul
  • Dia membentak serta membanting-banting kakinya ke lantai.
  • Kata sedang dan serta merupakan penghubung yang setara karena berfungsi menghubungkan klausa yang mempunyai fungsi yang sama, ialah sebagai klausa inti semua, sedangkan dalam kalimat :
  • Sedang ia asyik membaca buku, berderinglah telepon disampingnya.
  • Serta pelayan pergi kebagian lain, kami berjalan mengelilingi dasaran yang dipertontonkan.
  • kata sedang dan serta merupakan penghubung yang tidak setara karena berfungsi menghubungkan klausa yang tidak setara, maksudnya klausa yang tidak memiliki fungsi yang sama.
  • Secara semantik penghubung mempunyai fungsi menyatakan suatu pertalian antara unsur-unsur yang dihubungkan. Misalnya penghubung lalu pada kalimat :
  • Ia mengunci sepedanya, lalu masuk ke sebuah took
  • Yang menghubungkan klausa ia mengunci sepedanya dengan klausa masuk ke sebuah toko menyatakan pertalian ’perturutan’, ialah pertalian yang menyatakan bahwa peristiwa, keadaan, atau perbuatan, berturut-turut terjadi atau dilakukan.

KESIMPULAN
Dalam menggolongkan kata, Ramlan menggolongkannya secara formal. Kata formal merupakan bentuk kata sifat dari kata form yang berarti bentuk atau ujud. Jadi penggolongan secera formal maksudnya penggolongan jenis kata yang dilakukan Ramlan ini berdasarkan struktur fonologik den gramatik. Hal ini berbeda dengan pendekatan yang dipergunakan oleh pakar bahasa tradisional yang memandang kata dari segi arti.
Bentuk kata yang digunakan oleh Ramlan berupa struktur gramatik, sebab struktur fonologik bahasa Indonesia yang berupa unsur nonsegental (suprasegrnental) tidak ada yang berfungsi mengubah atau membedakan golongan kata. Pendekatan berdasarkan unsur gramatik pun tidak meliputi semua unsur, melainkan hanya struktur sintaktik, struktur morfologik diabaikan struktur sintaktik ini meliputi frase klausa, dan kalimat, Itulah yang dijadikan dasar pemikiran Ramlan dalam meggolongkan kata bahasa Indonesia. Ramlan (1985:48-77) menyatakan bahwa penggolongan kata yang dibuatnya didasarkan hasil penelitian yang dilakukannya pada tahun 1982 sampai dengan tahun 1983. Berdasarkan struktur sintaktik, kata bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi dua belas yaitu: (1) kata verbal; (2) kata nominal; (3) kata keterangan; (4) kata tamha; (5) kata bilangan; (6) kata penyukat; (7) kata sandang; (8) kata tanya; (9) kata suruh; (10) kata penghubung; (11) kata depan; dan (12) kata seruan.
                                                                                                                                

2 komentar: